RADIKALISME DI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

RADIKALISME DI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

RADIKALISME DI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

RADIKALISME DI KALANGAN KAUM MUSLIMIN

Radikalisme dalam makna yang positif adalah keinginan adanya perubahan kepada yang lebih baik. Dalam istilah agama disebut ishlah (perbaikan) atau Tajdid (pembaharuan). Adapun radikalisme dalam makna negatif adalah sinonim dengan makna ekstrimitas, kekerasan dan revolusi. Dalam istilah agama disebut ghuluw (melampaui batas) atau ifrath (keterlaluan). Kedua kutub makna yang amat bertolak belakang ini berakibat munculnya dua kutub gerakan keagamaan yang konfrontatif di Dunia Islam. Di sinilah letak kerancuan generalisasi Radikalisme Islam dalam makna serba negatif sehingga semangat Islamo Phobia memperoleh tempat penyalurannya. Karena tidak dapat membedakan antara Radikalisme Islam dalam makna positif dengan Radikalisme dalam makna negatif. Kedua semangat Radikal tersebut disamakan, karena keduanya menghendaki perubahan total sosial – politik bangsa dan negaranya. Walaupun perbedaan keduanya sangatlah konfrontatif dan tidak mungkin dipertemukan dari sisi mana pun.

Radikalisme ekstrim pertama kali muncul di zaman akhir masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan radliyallahu `anhu, dalam bentuk gerakan yang dipimpin Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi dari negeri Yaman yang masuk Islam di Al-Madinah An-Nabawiyah dan kemudian menebarkan fitnah di kalangan kaum Muslimin tentang keutamaan Ali menduduki jabatan Khilafah lebih dari Abu Bakar, Umar dan Utsman) bersama dua ribu pengikutnya yang menghendaki untuk digantinya Usman bin Affan dari kedudukannya sebagai Khalifah (kepala negara) dengan Ali bin Abi Thalib radliyallahu `anhu. Karena Ali lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam di banding Utsman. Kelompok Abdullah bin Saba ‘ berhasil membunuh Khalifah Utsman, dan negara dalam kekacauan yang amat serius, sehingga para Shahabat Nabi mendesak Ali bin Abi Thalib untuk memangku jabatan Khalifah untuk menghindari ancaman kehancuran negara.

Gerakan radikalisme ekstrim semakin menjadi-jadi di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib radliyallahu `anhu baik kwantitas maupun kwalitas. Gerakan ekstrim Ibnu Saba’ semakin menjadi-jadi (yaitu dengan menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya adalah titisan Tuhan sehingga mereka meyakini bahwa beliau dan keturunannya dari Fathimah Az-Zahra’ mempunyai sifat-sifat ketuhananan), ditambah lagi dengan munculnya gerakan ekstrim di negeri Haura’ ( Kufah , Iraq ) yang dipelopori oleh tokoh ultra ekstrim bernama Abdullah bin Wahhab Ar-Rasibi. Gerakan ini dinamakan Khawarij atau Haruriyah yang mempunyai prinsip bahwa orang Islam yang berbuat dosa dianggap murtad dari Islam. Kemudian prinsip ini berkembang pula kepada pemahaman yang lebih ekstrim yang mengatakan bahwa semua orang Islam yang berada di luar kelompok alirannya dianggap kafir. Maka dengan dasar pemahaman inilah mereka dengan serta merta mengkafirkan pemerintah di negara-negara Islam. Dan dengan dasar pemahaman seperti inilah mereka melakukan teror terhadap fasilitas-fasilitas umum di negara-negara Islam serta menggalang pemberontakan kepada pemerintah-pemerintah Muslimin di negara-negara Islam. Kalau karya pertama gerakan Ibnu Saba’ adalah membunuh Khalifah Utsman bin Affan, maka karya pertama gerakan Khawarij adalah membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Maka kedua gerakan radikal tersebut mempunyai kesamaan misi, yaitu menginginkan perubahan yang cepat dengan membunuh dan memberontak. Dan setelah meninggalnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib, gerakan radikal ekstrim bertambah lagi dengan munculnya Mu’tazilah di zaman pemerintahan Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Gerakan radikal ini mempunyai Pancasila prinsip gerakan; yaitu:

1). At-Tauhid, yang makna asalnya adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam segala sifat dan namaNya, tetapi bagi gerakan ini maknanya ialah mengingkari keimanan kepada adanya sifat-sifat bagi Allah.

2). Al-‘Adel, yang makna asalnya ialah mempercayai keadilan Allah yang maha sempurna, tetapi bagi gerakan ini maknanya ialah mengingkari keimanan kepada adanya taqdir Allah atas segala kejadian di dunia ini.

3). Al-wa’ad wal wa’ied, yaitu keyakinan gerakan ini bahwa seorang Muslim yang mati dalam keadaan belum bertaubat dari dosa-dosanya, maka dia akan masuk neraka kekal selamanya sebagaimana keadaan orang-orang yang mati dalam keadaan kafir.

4). Al-manzilatu bainal manzilatain, yaitu keyakinan grakan ini bahwa seorang Muslim yang berbuat dosa, maka di dunia ini dia keluar dari kedudukannya sebagai Muslim, akan tetapi belum bisa dikatagorikan kafir, sehingga dia di dunia ini dalam posisi di tengah-tengah di antara posisi Muslim dan posisi kafir.

5). Al-‘amru bil ma’ruf wan nahyu `anil munkar, yang makna asalnya ialah menyerukan manusia kepada kebaikan dan mencegah manusia dari kemungkaran, tetapi bagi gerakan ini maknanya ialah memperjuangkan tegaknya Syari’ah Islamiyah dalam bernegara dan berbangsa dengan cara mengkudeta pemerintah yang sedang berkuasa. Dan mencegah kemungkaran dengan cara memberontak kepada sumber kemungkaran yaitu penguasa yang zalim.

Gerakan radikal ekstrim Mu’tazilah ini dibangun pertama kali oleh Washil bin Atha’ yang semula adalah murid dari Imam Al-Hasan Al-Bashri (seorang Ulama’ dari kalangan Ahlul Hadits di masa generasi sesudah meninggalnya Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam). Tetapi ketika Washil mempelopori gerakan ekstrim tersebut, maka dia diusir dari halaqah ilmu yang dipimpin Imam Al-Hasan Al-Bashri, dan Washil akhirnya membikin halaqah sendiri terpisah dari halaqah gurunya.

Dari tiga aliran radikal ekstrim tersebut kemudian lahir berbagai aliran ekstrim lainnya di dunia Islam sampai hari ini. Tiga aliran tersebut bila diperjelas dalam kata-kata yang lugas adalah sebagai berikut:

1). Aliran Abdullah bin Saba ‘ atau Ibnu Saba’ atau Saba’iyah yang kemudian dikenal dengan aliran Ar-Rafidhah atau sekarang lebih terkenal dengan nama Syi’ah.

2). Aliran Khawarij atau Haruriyah atau Azariqah, yang berubah-rubah namanya di setiap zaman dan tempat disesuaikan dengan situasi dan kondisi sosial – politik yang sedang berkembang.

3). Aliran Mu’tazilah atau Washiliyah, juga akhirnya berkembang di segala zaman dan tempat dengan berganti nama juga sesuai dengan situasi dan kondisi sosial – politik masing-masingnya.

Demikianlah cikal bakal tumbuhnya berbagai aliran pemahaman agama yang radikal ekstrim sehingga melahirkan berbagai fitnah keji di kalangan kaum Muslimin khususnya dan di kalangan ummat manusia pada umumnya.

Adapun pemahaman dan sikap radikal yang positif dalam pandangan Islam adalah ishlah dan tajdid. Keduanya dikatakan radikal, karena menghendaki koreksi total terhadap kondisi sosial – politik di masyarakat muslimin yang telah banyak menyimpang dari ajaran-ajaran Islam. Melalui gerakan ishlah dan tajdid, diperjuangkanlah perubahan sosial – politik agar sesuai dengan ajaran Islam secara kaaffah.

Gerakan ini dinamakan ishlah, karena sabda Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam yang memberitakan adanya orang-orang yang memperjuangkan ishlah di kalangan masyarakat Muslimin ketika terjadi kerusakan dan penyimpangan dari tununan agamanya. Rasulullah shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

“Islam mulai didakwahkan dalam keadaan asing di kalangan ummat manusia, dan Islam nantinya di belakang hari akan kembali kepada keasingannya. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing oleh lingkungannya (karena menjalankan ajaran Islam yang sudah tidak dikenal lagi oleh keumuman orang). Para shahabat bertanya: Siapakah mereka ya Rasulullah?” Beliau menjawab: Yaitu mereka yang melakukan gerakan ishlah ketika terjadi kerusakan perangai pada keumuman manusia.” (HR. Al-Imam Abu Bakar Al-Ajurri dalam Al-Ghuraba’ minal Mu’minin hal. 23, dan At-Tirmidzi dalam Kitabul Iman bab 13 dan berkata Tirmidzi: hadits ini hasan shahih gharib, dan Al-Baihaqi dalam Az-Zuhdul Kabir no. 198 hal. 114, Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawaid 7 / 278 dari Jabir radliyallahu `anhu).

Dan gerakan ini dinamakan pula tajdid, karena Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah memberitakan dalam sabdanya akan muncul orang yang selalu melakukan perjuangan tajdid ini. Sebagaimana sabda beliau berikut ini:

“Sesungguhnya Allah akan selalu membangkitkan untuk ummat ini pada setiap seratus tahun, orang yang akan melakukan gerakan tajdid terhadap agamanya.” (HR. Abu Dawud dalam Sunannya hadis ke 4291, Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya jilid 4 halaman 522 dan lain-lainnya).

Baca Juga :