KESEPIAN DALAM KESENDIRIAN

Table of Contents

KESEPIAN DALAM KESENDIRIAN

KESEPIAN DALAM KESENDIRIAN

KESEPIAN DALAM KESENDIRIAN

Naluri kemanusian pada Adam dan Hawwa’ menumbuhkan keresahan pada keduanya dalam posisi kesendirian di tempat masing-masing yang saling berjauhan satu dengan yang lainnya. Tumbuh rasa kesepihan pada keduanya dan keinginan untuk saling berjumpa untuk menumpahkan kerinduan yang semakin mendera. Juga naluri sebagai hamba Allah Ta’ala menumbuhkan keresahan pada keduanya ketika merindukan suasana penuh suara dzikir tasbih, tahmid dan takbir mengagungkan Allah Ta’ala sebagaimana yang biasa keduanya mendengar dan menyaksikannya pada majlis para Malaikat di surga Allah sebelum keduanya diturunkan ke bumi. Maka Adampun menyampaikan keluhan dan rintihannya kepada Allah Ta’ala, karena hanya Dialah yang bisa mendengar segala keluhan hambaNya dan hanya Dia yang dapat memberi segala permintaan hambaNya.

Diriwayatkan oleh At Thabari dalam Tarikhnya bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan : “Adam diturunkan di India dan Hawwa’ diturunkan di Juddah, maka datanglah Adam mencari Hawwa’ untuk keduanya berkumpul kembali dan Hawwa’ mendekat kepada Adam, sehingga dinamakanlah tempat itu dengan Muzdalifah dan mulailah keduanya saling kenal mengenal di Arafat sehingga tempat itu dinamakan Arafat, dan berkumpullah keduanya di Jam’in sehingga tempat itu dinamakan Al Jam’u dan Adam diturunkan di sebuah gunung di negeri India yang dinamakan Baudza”. Demikian Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma menceritakan. Beliau meriwayatkan pula bahwa masa perpisahan antara Adam dan Hawwa’ setelah diturunkan di dunia ialah seratus tahun.

At Thabari meriwayatkan pula cerita Atha’ bin Abi Rabah : “Ketika Adam kehilangan suara-suara tasbih, tahmid, dan takbir mengagungkan Allah Ta’ala yang biasa didengar olehnya dari para Malaikat, maka Adampun merasa kesepian sehingga diapun mengadukan rintihan kesepiannya itu kepada Allah Azza Wa Jalla dalam do’anya dan sholatnya. Maka Adampun diarahkan untuk menuju Makkah, sehingga jadilah tempat dia menapakkan kakinya dalam perjalanan menuju Makkah dari India itu, desa-desa yang bakal ditempati oleh anak cucunya nanti, dan jurang-jurang. Sehingga sampailah ia ke Makkah, dan ketika itu Allah turunkan batu mulia dari batu mulya yang ada di surga tepat di tempat dibangunnya Ka’bah sekarang ini, sehingga Adampun berthawaf padanya terus-menerus sampai akhirnya Allah mengirim angin topan sehingga angin itu mengangkat batu mulia tersebut kembali ke langit. Kemudian setelah itu Allah Ta’ala mengutus Ibrahim Al Khalil alaihis salam maka diapun membangunnya tempat bekas thawafnya Adam itu. Inilah makna firman Allah Ta’ala dalam surat Al Haj 26 (yang artinya) : Dan ingatlah ketika Kami menempatkan Ibrahim di tempat Al Bait (yakni Ka’bah rumah Allah)”.

Diriwayatkan pula oleh At Thabari dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma bahwa beliau bercerita : “Ketika Adam dan Hawwa melanggar larangan Allah di surgaNya, Allah Ta’ala menyatakan kepada keduanya : Maka demi kemulyaanKu, sungguh-sungguh Aku akan menurunkanmu ke bumi, sehingga di sana kamu tidak akan mendapatkan keperluan hidup, kecuali dengan susah payah. Sehingga keduanyapun turun ke bumi dari surgaNya. Semula keduanya di surga memakan buah-buahan yang telah tersedia, maka ketika keduanya sudah diturunkan di bumi, keduanya memakan buah-buahan yang tidak tersedia dan juga makan makanan dan minuman yang tidak tersedia seperti di surga. Akan tetapi harus dengan susah payah untuk mendapatkannya. Maka mulailah Adam diajari bagaimana cara membikin besi dan diperintahkan untuk bercocok tanam, sehingga Adampun mulai bercocok tanam dan membikin upaya pengairan terhadap tanah pertaniannya. Sehingga ketika tanam-tanaman itu mulai menguning siap untuk dipetik, Adampun memetik hasil pertaniannya itu dan menumbuknya untuk mengupas kulitnya dan terus menumbuknya untuk membikin tepung. Setelah menjadi tepung Adam mengadoni tepung itu terus memanggangnya di atas api sehingga menjadi roti sehingga Adam dan Hawwa’ menyantapnya”.

Al Allamah Izzuddin Abil Hasan Ali bin Abil Karam Muhammad bin Muhammad bin Abdil Karim bin Abdil Wahid Asyaibani yang terkenal dengan Ibnul Atsir meriwayatkan dalam kitabnya yang terkenal Al Kamil Fit Tarikh jilid 1 halaman 39, bahwa semua proses bercocok tanam dan kemudian membikin roti yang dilakukan oleh Adam dan Hawwa’ itu dipandu dan dibimbing dengan pengajaran dari Malaikat Jibril yang Allah kirim ke bumi untuk mengajari Adam dan Hawwa’ berbagai cara menjalani hidup di dunia yang penuh dengan cerita pahit getirnya perjuangan mempertahankan hidup.

Baca Juga :