Kadisdik : Penguasaan IPTEK adalah Keniscayaan di Abad 21

Kadisdik : Penguasaan IPTEK adalah Keniscayaan di Abad 21

Kadisdik Penguasaan IPTEK adalah Keniscayaan di Abad 21

Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, lembaga pendidikan dinilai harus membangun

tradisi melek teknologi dan jiwa wirausaha peserta didik agar mampu berdaya saing di abad 21. Dan dibutuhkan kualitas pendidik yang berkompetensi untuk mewujudkan itu semua.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Ahmad Hadadi dalam Seminar “Digital Learning dalam konteks Revolusi Industri 4.0 bagi Guru Inovatif di Era Disruptif : Peluang dan Tantangan” yang diselenggarakan oleh Departemen Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Program Studi Teknologi Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia di Hotel Grandia, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Kamis (30/8/2018).

Seminar ini dihadiri oleh 200 peserta yang terdiri dari Kepala Sekolah

atau Guru dari Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di Kota Bandung. Selain Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, seminar ini juga dihadiri oleh Ketua Prodi Teknologi Pendidikan, Cepi Riyana.

Hadadi menuturkan, revolusi industri 4.0 menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan guna membangun masyarakat yang berkualitas dan berdaya saing yang sejalan dengan visi Dinas Pendidikan. “Jadi untuk semua satuan pendidikan harus mulai konsentrasi dalam pemberian ilmu pengetahuan dan teknologi serta kewirausahaan agar mampu berdaya saing di era sekarang. Penguasaan IPTEK adalah keniscayaan dalam kehidupan sekarang,” papar Hadadi.

Hadadi juga menjelaskan berbagai keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa

untuk meningkatkan dayasaing di abad 21 meliputi kualitas karakter, literasi dasar dan kompetensi. Dalam kualitas karakter, siswa harus bisa beradptasi dalam lingkungan yang dinamis dengan menjungjung nilai-nilai toleransi, relijius, mandiri, berintegritas, bertanggung jawab dan peduli lingkungan.

Kemudian, siswa mampu menerapkan proses literasi dalam kesehariannya, meliputi literasi baca, menulis, teknologi dan budaya. Setelahnya, dalam tahap kompetensi, siswa mampu memiliki empat dasar untuk memecahkan masalah, yakni berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif.

Dalam tataran praktis, Dinas Pendidikan Jawa Barat melalui program layanan berbasis daring, seperti Jabar Smart School, Literasi Sekolah Jawa Barat, penerapan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online dan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Pembukaan SMA Terbuka dan SMK Jarak Jauh serta Sistem Informasi Aplikasi Pendidikan Jarak Jauh (SIAJAR).

“Semoga seminar kali ini mampu meningkatkan kompetensi guru-guru SMA di Kota Bandung guna mendidik para siswa. Saya juga berterimakasih kepada semua pihak dan sponsor yang turut mendukung terselanggaranya acara ini,” pungkas Hadadi.***

 

Baca Juga :